Senin, 09 Desember 2013

porositas dan agregat buatan


1.    POROSITAS PADA AGREGAT
Porositas adalah ukuran dari ruang kosong di antara material, dan merupakan fraksi dari volume ruang kosong terhadap total volume, yang bernilai antara 0 dan 1, atau sebagai persentase antara 0-100%.
Porositas bergantung pada jenis bahan, ukuran bahan, distribusi pori, sementasi, riwayat diagenetik, dan komposisinya. Porositas bebatuan umumnya berkurang dengan bertambahnya usia dan kedalaman. Namun hal yang berlawanan dapat terjadi yang biasanya dikarenakan riwayat temperatur bebatuan.
Pada campuran beraspal panas, agregat merupakan komponen pembentuk utamanya karena memberikan sifat struktural dan juga memberikan kontribusi sebesar 90 – 95 % terhadap berat dari campuran. Agregat yang tersedia di alam mempunyai pori atau rongga udara yang berbeda dari satu lokasi dengan lokasi lainnya, hal ini dapat dilihat dengan perbedaan nilai resapan air oleh agregat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hubungan Porositas agregat terhadap Berat Jenis Maksimum campuran. Dalam penelitian ini menggunakan agregat dari 3 lokasi yaitu Kinilow, Tateli dan Lolak untuk mendapatkan nilai resapan air yang berbeda. Tahapan pertama dalam penelitian ini adalah melakukan pemeriksaan agregat kasar, agregat halus dan aspal. Selanjutnya berdasarkan gradasi agregat dicari komposisi yang terbaik untuk campuran Lapis Tipis Aspal Beton (Lataston) – Lapis Aus atau Hot Rolled Sheet – Wearing Course (HRS-WC). Dari hasil pengujian dilaboratorium, diperoleh nilai resapan air total dalam campuran sebagai berikut: Lolak= 1,419, Kinilow=1,582 dan Tateli= 1,741 sedangkan nilai berat jenis Effektif agregatrata-rata sebagai berikut: Lolak= 2,663, Kinilow=2,479 dan Tateli= 2,476. Dari hasil Perhitungan Berat Jenis Maksimum campuran secara langsung didapat nilai Gmm pada kadar aspal Rencana 7% adalah sebagai berikut: Lolak = 2,439%, Kinilow= 2,295%, dan Tateli= 2,294%. Kata kunci :Porositas Agregat, Berat Jenis, Berat Jenis Maksimum Campuran



2.      AGREGAT BUATAN

Agregat adalah butiran mineral alami yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam campuran beton atau mortar. Agregat menempati sebanyak kurang lebih 70 % dari volume beton atau mortar. Oleh karena itu sifat-sifat agregat sangat mempengaruhi sifat-sifat beton yang dihasilkan.
Berdasarkan asalnya, agregat digolongkan menjadi :
A.    Agregat alam
Agregat yang menggunakan bahan baku dari batu alam atau penghancurannya.
Jenis batuan yang baik digunakan untuk agregat harus keras, kompak, kekal
dan tidak pipih. Agregat alam terdiri dari :
1.      Agregat alam

kerikil dan pasir alam, agregat yang berasal dari penghancuran oleh alam dari batuan induknya. Biasanya ditemukan di sekitar sungai atau di daratan. Agregat beton alami berasal dari pelapukan atau disintegrasi dari batuan besar, baik dari batuan beku, sedimen maupun metamorf. Bentukya bulat tetapi biasanya banyak tercampur dengan kotoran dan tanah liat. Oleh karena itu jika digunakan untuk beton harus dilakukan pencucian terlebih dahulu. (2) Agregat batu pecah, yaitu agregat yang terbuat dari batu alam yang dipecah dengan ukuran tertentu.

2.      Agregat Buatan

Agregat yang dibuat dengan tujuan penggunaan khusus (tertentu) karena
kekurangan agregat alam. Biasanya agregat buatan adalah agregat ringan.
Contoh agregat buatan adalah : Klinker dan breeze yang berasal dari limbah
pembangkit tenaga uap, agregat yang berasal dari tanah liat yang dibakar (leca
= Lightweight Expanded Clay Agregate), cook breeze berasal dari limbah sisa
pembakaran arang, hydite berasal dari tanah liat (shale) yang dibakar pada
tungku putar, lelite terbuat dari batu metamorphore atau shale yang mengandung karbon, kemudian dipecah dan dibakar pada tungku vertical pada
suhu tinggi.

Berdasarkan berat jenisnya, agregat digolongkan menjadi :
a.      Agregat berat :
agregat yang mempunyai berat jenis lebih dari 2,8. Biasanya digunakan untuk beton yang terkena sinar radiasi sinar X.
Contoh agregat berat : Magnetit, butiran besi
b.      Agregat Normal :
agregat yang mempunyai berat jenis 2,50 – 2,70.Beton dengan agregat normal akan memiliki berat jenis sekitar 2,3 dengan kuat tekan 15 MPa – 40 MPa. Agregat normal terdiri dari : kerikil, pasir, batu
pecah (berasal dari alam), klingker, terak dapur tinggi (agregat buatan).
c.       Agregat ringan :
 agregat yang mempunyai berat jenis kurang dari 2,0.
Biasanya digunakan untuk membuat beton ringan. Terdiri dari : batu
apung, asbes, berbagai serat alam (alam), terak dapur tinggi dg gelembung
udara, perlit yang dikembangkan dengan pembakaran, lempung bekah, dll
(buatan).


Berdasarkan Ukuran Butirannya :
·         Batu → agregat yang mempunyai besar butiran > 40 mm
·         Kerikil → agregat yang mempunyai besar butiran 4,8 mm – 40 mm
·         Pasir → agregat yang mempunyai besar butiran 0,15 mm – 4,8 mm
·         Debu (silt) → agregat yang mempunyai besar butiran < 0,15 mm

Fungsi agregat di dalam beton adalah untuk :
·         Menghemat penggunaan semen Portland
·         Menghasilkan kekuatan yang besar pada beton
·         Mengurangi penyusustan pada beton
·         Menghasilkan beton yang padat bila gradasinya baik.

Jenis Agregat
No
Agregat
Fungsi
Penjelasan / Ket
1
Endapan agregat kuarter/resen
Pada jenis endapan ini, tanah penutup belum terbentuk. Endapan didapatkan di sepanjang alur sungai. Keadaan endapannya masih lepas sehingga teknik
penambangan permukaan dapat dilakukan dengan alat sederhana seperti sekop dan cangkul. Hasil yg diperoleh diangkut dengan truk untuk dipasarkan. Teknik penambangan ini menghasilkan produksi agregat yang sangat terbatas. Apabila diinginkan produksi dalam jumlah banyak, maka penggalian/pengambilan dilakukan dengan showel dan backhoe. Pemilahan besar butir (untuk memisahkan ukuran pasir dan kerikil) dilakukan secara
semi mekanis dengan saringan pasir
.
Hasil yang sudah dipisahkan kemudian
diangkut dengan truk ungkit dengan showel ke tempat penimbunan di luar alur sungai. Teknik penambangan ini dapat dijumpai di sepanjang Sungai Boyong
Gunung Merapi dan Sungai Cikunir Gunung Galunggung.
2
Endapan agregat yang telah membentuk formasi
Tipe endapan ini telah tertutup oleh tanah/soil. Pekerjaan awal dilakukan dengan landb clearing/pembersihan tanah penutup. Endapan agregat jenis ini biasanya sudah agak keras dan tercampur dengan lumpur/lempung dan zat-zat organic lain. Untuk mendapatkan agregat yang bersih dari lempung dan zat organic, system penambangan dilakukan dengan cara menggunakan pompa tekan/pompa semprot bertekanan tinggi dan dilakukan pencucian.
Model penambangan seperti ini dilakukan di daerah desa Lebak Mekar, kab. Cirebon dan di lereng G. Muria Kab. Kudus.
 3
Produksi Agregat Dari Batu Pecah
Agregat batu pecah diproduksi dari bongkahan-bongkahan batuan hasil peledakan (biasanya batuan andesit dan basalt), kemudian dipecah lagi dengan
palu atau alat mekanis (breaker/crusher) untuk disesuaikan ukurannya dengan
kebutuhan konsumen. Secara umum, kegiatan pembuatan agregat batu pecah
terdiri dari peremukan, pengayakan dan pengangkutan.
Hasil dari pengolahan ini berupa batu pecah dengan ukuran ≤ 10 mm, 10 – 20
mm, 20 – 30 mm, 30 – 50 mm, 50 – 75 mm.

1 komentar: